Buka dua aplikasi salat dan kalender di dinding masjid, dan kamu bisa menemukan tiga waktu berbeda untuk Magrib yang sama. Rasanya mengganggu, apalagi kalau sebuah aplikasi akan menjeda HP-mu berdasarkan angka itu.
Sebagian besar waktu, tidak ada yang salah. Masing-masing menjawab pertanyaan yang sedikit berbeda. Ini lima hal yang membuat perbedaannya, kira-kira dari yang terbesar sampai yang terkecil.
1. Metode perhitungan
Zuhur dan Magrib terikat pada peristiwa yang jelas: matahari melewati titik tertingginya, dan matahari menghilang di bawah ufuk. Subuh dan Isya tidak begitu. Keduanya bergantung pada seberapa gelap langit, yang dinyatakan sebagai sudut matahari di bawah ufuk.
Setiap otoritas memilih sudut yang berbeda. Kemenag memakai 20° untuk Subuh dan 18° untuk Isya. Liga Muslim Dunia memakai 18° dan 17°. ISNA di Amerika Utara memakai 15° untuk keduanya. Umm al-Qura menetapkan Isya 90 menit setelah Magrib. Pilih metode yang berbeda, dan Subuh bisa bergeser dua puluh menit atau lebih.
Asar punya perbedaannya sendiri. Menurut jumhur ulama, Asar masuk saat bayangan benda sama dengan panjangnya (ditambah bayangan saat tengah hari); menurut mazhab Hanafi, saat bayangannya dua kali panjangnya. Itu saja bisa menggeser Asar hampir satu jam.
Yang perlu kamu lakukan: pilih metode yang dipakai otoritas setempat, dan mazhab yang kamu ikuti untuk Asar. Ishra menanyakan keduanya saat penyiapan, dan kamu bisa mengubahnya di Pengaturan.
2. Ihtiyati, menit kehati-hatian
Sebagian otoritas tidak menerbitkan waktu astronomi murni. Kemenag dan JAKIM menambahkan beberapa menit kehati-hatian, ihtiyati, supaya tidak ada yang salat terlalu awal. Aplikasi yang menghitung astronomi murni akan benar soal matahari, tapi tetap lebih awal dibanding semua jadwal resmi.
Di Ishra: di Android dan iPhone, metode Kemenag dan JAKIM menambahkan menit kehati-hatian yang sama seperti jadwal resmi mereka.
3. Ketinggian tempatmu
Dari tempat yang lebih tinggi, kamu bisa melihat lebih jauh melewati lengkung bumi, sehingga matahari terbenam lebih lambat dan terbit lebih cepat dibanding di tepi laut. Di kota seperti Bandung, sekitar 700 meter di atas laut, selisihnya kira-kira empat menit untuk Magrib, setiap hari.
Di Ishra untuk Android: setiap kota di katalog membawa data ketinggiannya, dan lokasi GPS memakai ketinggianmu sendiri. Hanya Magrib dan terbit yang bergeser, sama seperti tabel Kemenag.
4. Titik persismu di peta
Kota di aplikasi salat hanyalah satu titik, biasanya pusat kotanya. Jakarta, atau wilayah besar mana pun, cukup lebar sehingga ujung timur dan baratnya melihat matahari di saat yang sedikit berbeda. Kalau kamu memilih kota dan bukan lokasi, kamu bisa terpaut satu atau dua menit dari langitmu sendiri.
Di Ishra untuk Android: Pengaturan bisa memakai koordinat persis HP-mu, dan menunjukkan titik serta ketinggian yang dipakai untuk menghitung jadwal.
5. Kebiasaan masjidmu
Setelah semua itu, sebagian masjid masih membulatkan waktu, menambah beberapa menit sebelum iqamah, atau memakai kalender yang dicetak bertahun-tahun lalu. Itu keputusan mereka, dan layak dihormati.
Di Ishra untuk Android: kamu bisa mengoreksi tiap waktu salat sampai 30 menit lebih awal atau lebih lambat, supaya HP-mu sama dengan azan yang benar-benar kamu dengar.
Singkatnya
Pilih metode otoritasmu dan mazhabmu, biarkan Ishra memakai lokasimu yang sebenarnya, dan sesuaikan sisanya sendiri. Dan kalau sebuah aplikasi, aplikasi apa pun, berbeda dengan masjid atau ustadz setempat, ikuti mereka. Aplikasi salat hanya alat bantu, bukan otoritas.